Jum'at, 06 November 2026 Perhatian : Pengambilan berita kabarriau.net harus mencantumkan kabarriau, boleh krN, atau kami akan menuntut sesuai UU No.12 Thn 1997 tentang Hak Cipta
 
Prof. Sutan Nasomal Ungkap Kekhawatiran Indonesia Bernasib seperti Negara-Negara yang Dilanda Konflik: Politik Adu Domba, Korupsi, dan Penguasaan SDA Jadi Sorotan!
Senin, 02 November 2026 - 14:29:07 WIB

Kabar Riau - Nasional
Prof. Sutan Nasomal Ingatkan Presiden Prabowo: Jangan Biarkan Indonesia Kaya SDA tetapi Rakyat Miskin, Persatuan Bangsa Harus Dijaga!
SHARE
   
 

JAKARTA

Kekayaan sumber daya alam (SDA) Indonesia yang melimpah dinilai belum sepenuhnya memberikan manfaat kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat. Di tengah tekanan ekonomi, beban pajak, persoalan korupsi, serta tantangan geopolitik internasional, pemerintah diingatkan agar memperkuat kedaulatan ekonomi sekaligus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H., pakar hukum internasional sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID), ketika menjawab pertanyaan sejumlah pimpinan redaksi media cetak dan online, baik dalam maupun luar negeri, melalui komunikasi telepon seluler dari kantornya di kawasan Cijantung, Jakarta Timur, Senin (2/11/2026).

Dalam keterangannya, Prof. Sutan Nasomal menyoroti kondisi perekonomian masyarakat yang menurut penilaiannya masih menghadapi berbagai tekanan. Ia mempertanyakan mengapa negara yang memiliki kekayaan minyak bumi, gas alam, emas, batu bara, perkebunan, hasil hutan, dan sumber daya kelautan begitu besar masih menghadapi persoalan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi.

Menurutnya, kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan dari penjajahan secara politik, tetapi juga harus diwujudkan melalui kemandirian ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

"Indonesia ini negara yang sangat kaya. Sumber daya alam kita luar biasa. Tetapi mengapa masih banyak rakyat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup? Mengapa dunia usaha semakin berat, sementara masyarakat terus menghadapi berbagai kewajiban pajak? Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah, "ujar Prof. Sutan Nasomal.

Soroti Beban Pajak dan Ketimpangan Ekonomi

Prof. Sutan Nasomal menilai pemerintah perlu mengevaluasi berbagai kebijakan ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan beban masyarakat berpenghasilan rendah, pelaku usaha kecil, petani, nelayan, dan pekerja.

Ia mengingatkan bahwa kebijakan perpajakan harus mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat serta dilaksanakan secara adil dan proporsional.

Menurutnya, pembangunan nasional tidak boleh hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi secara statistik, tetapi harus memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.

"Jangan sampai rakyat merasa hidup di negeri yang kaya, tetapi tidak dapat menikmati kekayaan negerinya sendiri. Pemerintah harus memastikan bahwa hasil pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat, "tegasnya.

Ia juga menyoroti persoalan ketimpangan penguasaan sumber daya ekonomi yang menurutnya dapat memperlebar kesenjangan antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Kekayaan SDA dan Dugaan Kebocoran Keuangan Negara

Dalam pandangannya, persoalan besar yang perlu mendapatkan perhatian pemerintah adalah pengelolaan sumber daya alam, transparansi perdagangan internasional, serta potensi kebocoran penerimaan negara.

Prof. Sutan Nasomal secara khusus menyinggung praktik under-invoicing, yakni pelaporan nilai transaksi barang yang lebih rendah daripada nilai transaksi sebenarnya.

Praktik tersebut, apabila terbukti dilakukan secara melawan hukum, dapat menyebabkan berkurangnya penerimaan pajak maupun bea yang seharusnya masuk ke kas negara.

Ia menyebut adanya estimasi kerugian dalam jumlah sangat besar akibat dugaan manipulasi perdagangan dan praktik keuangan lainnya selama beberapa dekade.

Namun, angka kerugian yang disampaikan tersebut masih memerlukan verifikasi melalui data resmi, metodologi penghitungan yang jelas, serta pemeriksaan lembaga berwenang.

Menurut Prof. Sutan Nasomal, pemerintah harus memperkuat pengawasan terhadap perdagangan komoditas strategis, termasuk minyak, gas, hasil tambang, dan perkebunan.

"Kalau kekayaan alam dikelola dengan benar, kebocoran dicegah, dan korupsi diberantas, tentu kemampuan negara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan semakin besar, "katanya.

Ia meminta aparat penegak hukum, lembaga pengawasan, serta instansi terkait menjalankan tugas secara profesional dan tidak memberikan perlakuan istimewa kepada pihak mana pun yang terbukti melakukan penyimpangan.

Mengapa Indonesia Tidak Mengalami Perpecahan seperti Negara-Negara yang Dilanda Konflik?

Dalam pemaparannya, Prof. Sutan Nasomal juga mengangkat persoalan sejarah dan geopolitik internasional.

Ia membandingkan perjalanan Indonesia dengan sejumlah negara di Afrika dan Timur Tengah yang mengalami konflik berkepanjangan meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam.

Menurutnya, konflik politik, perebutan kekuasaan, persaingan kepentingan ekonomi, serta keterlibatan kekuatan asing dapat memperburuk kondisi keamanan dan menghambat pembangunan suatu negara.

Meski demikian, kondisi negara-negara Afrika tidak dapat disamaratakan. Benua tersebut terdiri atas banyak negara dengan tingkat stabilitas politik, pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi yang berbeda-beda.

Prof. Sutan Nasomal berpandangan bahwa Indonesia memiliki pengalaman sejarah yang menunjukkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan suku, agama, budaya, dan kepentingan politik.

Ia menyinggung berbagai konflik yang pernah dihadapi Indonesia, termasuk konflik Aceh, persoalan Papua, serta sejarah pemisahan Timor Timur yang kemudian menjadi negara merdeka bernama Timor-Leste pada 20 Mei 2002.

Menurutnya, pengalaman tersebut harus menjadi pelajaran agar setiap persoalan nasional diselesaikan melalui pendekatan hukum, keadilan, dialog, dan penghormatan terhadap hak masyarakat.

"Indonesia harus belajar dari sejarah. Jangan sampai perbedaan kepentingan membuat bangsa ini terpecah. Persatuan merupakan kekuatan besar yang harus dijaga oleh seluruh rakyat dan pemerintah," ungkapnya.

Ingatkan Ancaman Politik Adu Domba dan Kepentingan Asing

Prof. Sutan Nasomal turut mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap persaingan geopolitik dan pengaruh kepentingan ekonomi internasional.

Ia berpendapat bahwa negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam besar perlu memperkuat kemampuan diplomasi, pertahanan, dan kemandirian ekonomi agar tidak mudah dirugikan dalam hubungan internasional.

Dalam keterangannya, ia mengemukakan pandangan mengenai dugaan pengaruh kekuatan asing dalam sejumlah konflik internasional.

Pandangan tersebut merupakan analisis dan pendapat narasumber, bukan kesimpulan yang telah dibuktikan mengenai adanya satu kelompok internasional yang secara terkoordinasi mengendalikan konflik atau berupaya memecah Indonesia.

Prof. Sutan Nasomal menegaskan bahwa Indonesia harus menjalin hubungan internasional berdasarkan prinsip saling menghormati, kesetaraan, serta kepentingan nasional.

Menurutnya, kerja sama dengan negara mana pun tetap diperlukan selama memberikan manfaat bagi pembangunan dan tidak mengurangi kedaulatan bangsa.

"Kita boleh bekerja sama dengan negara mana pun. Tetapi jangan sampai kekayaan Indonesia justru lebih banyak menguntungkan pihak lain, sementara rakyat sendiri tidak mendapatkan manfaat yang sepadan, "ujarnya.

Presiden Prabowo Diharapkan Memperkuat Kedaulatan Ekonomi

Lebih lanjut, Prof. Sutan Nasomal menyampaikan harapannya kepada Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto, beserta jajaran kabinetnya agar mampu memperkuat perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia menilai pemerintah perlu memprioritaskan penguatan industri dalam negeri, penciptaan lapangan pekerjaan, pemberantasan korupsi, pengawasan penerimaan negara, serta pengelolaan sumber daya alam yang lebih transparan.

Selain itu, ia berharap pemerintah dapat memastikan kebijakan ekonomi tidak semakin memberatkan kelompok masyarakat yang rentan.

"Harapan kita kepada Presiden Prabowo sangat besar. Indonesia harus bergerak menuju kesejahteraan yang lebih merata. Jangan hanya menjadi negara kaya sumber daya alam, tetapi rakyatnya masih menghadapi kesulitan ekonomi, "tuturnya.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari banyaknya proyek infrastruktur atau besarnya investasi yang masuk, melainkan juga dari meningkatnya pendapatan masyarakat, tersedianya pekerjaan, terjangkaunya kebutuhan pokok, dan membaiknya pelayanan publik.

Ia menekankan bahwa pemberantasan korupsi harus dilaksanakan melalui proses hukum yang adil, transparan, dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Persatuan Nasional Menjadi Benteng Menghadapi Tantangan Global

Prof. Sutan Nasomal menegaskan bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada kekayaan alam atau kemampuan pertahanan, tetapi juga pada persatuan masyarakatnya.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu yang berpotensi menimbulkan permusuhan antarkelompok.

Menurutnya, perbedaan pendapat dalam kehidupan demokrasi merupakan hal yang wajar, tetapi harus diselesaikan secara damai dan melalui mekanisme konstitusional.

Ia juga meminta generasi muda mempelajari sejarah bangsa, memahami perkembangan geopolitik, serta meningkatkan pengetahuan mengenai ekonomi dan hukum.

"Generasi muda jangan sampai buta sejarah dan buta politik. Mereka harus memahami bagaimana bangsa ini berdiri, bagaimana kekayaan negara dikelola, dan bagaimana mempertahankan persatuan Indonesia, "pesannya.

Prof. Sutan Nasomal berharap pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, pelaku usaha, serta seluruh elemen bangsa dapat memperkuat kerja sama untuk menghadapi tantangan ekonomi dan persaingan global.

Jangan Biarkan Kekayaan Indonesia Tidak Dinikmati Rakyatnya

Mengakhiri keterangannya, Prof. Sutan Nasomal kembali menegaskan bahwa tujuan utama pengelolaan kekayaan negara adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Ia berharap kekayaan alam Indonesia dapat memberikan manfaat lebih besar melalui tata kelola yang akuntabel, peningkatan nilai tambah industri, serta pemerataan kesempatan ekonomi.

Menurutnya, Indonesia mempunyai potensi untuk memperkuat posisi sebagai negara dengan perekonomian yang mandiri, sepanjang kebijakan pembangunan dilaksanakan secara konsisten dan mengutamakan kepentingan masyarakat.

"Indonesia harus tetap utuh, kuat, dan berdaulat. Kekayaan alam jangan sampai hanya dinikmati segelintir pihak. Kita berharap di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, kesejahteraan rakyat semakin meningkat dan keadilan benar-benar dapat dirasakan seluruh masyarakat, "pungkas Prof. Sutan Nasomal.

Ia menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh komponen bangsa untuk menjaga persatuan, memperkuat kesadaran hukum, serta mengawal pengelolaan kekayaan negara demi kepentingan generasi mendatang.*krN/Rishki 

Narasumber: 
Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H., M.H.
Pakar Hukum Internasional, Pemerhati Ekonomi, Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan
Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia (PAMID) / Association of Young Indonesian Advocates.

(9025) Dibaca

 
Komentar Anda :
 


 
Redaksi | Indeks Berita | RSS | Indeks Iklan Copyright © 2010-2023 by KabarRiau.net. All Rights Reserved