Selasa, 30 09 2014 Perhatian : Pengambilan berita kabarriau.net harus mencantumkan kabarriau, boleh krN, atau kami akan menuntut sesuai UU No.12 Thn 1997 tentang Hak Cipta
 
Ada Obat Baru untuk Penis yang Bengkok
Minggu, 17 Juni 2012 - 23:52:02 WIB

Kabar Riau - Life Style

Pada pria, ereksi penis yang normal adalah apabila bentuknya lurus ke depan. Namun ada penyakit yang membuat penis tidak bisa ereksi lurus ke depan, melainkan bengkok ke kiri, kanan ataupun ke bawah. Akibatnya, pria jadi sulit atau bahkan tidak bisa melakukan hubungan seksual.

Penyakit yang mengerikan bagi pria ini disebut Peyronie. Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti. Beberapa dokter berteori bahwa kelengkungan terjadi akibat adanya trauma atau gesekan yang menyebabkan cedera atau pendarahan ringan pada penis.

Selama masa penyembuhan dari cedera, faktor pertumbuhan tertentu mengalami peningkatan susunan yang menyebabkan pembentukan plak. Plak ini lah yang mengganggu kelurusan ereksi.

Sebuah perusahaan farmasi bernama Auxilium Pharmaceuticals mengatakan bahwa pihaknya telah menemukan obat yang disebut Xiaflex untuk mengobati penyakit ini. Obat ini berhasil lolos 2 tahap akhir uji klinis dan akan menjadi obat pertama yang disetujui untuk mengobati Peyronie.

Auxilium mengatakan bahwa sebanyak 5 persen pria mengidap Peyronie, namun perkiraannya bisa bervariasi karena banyak pria yang terkena tidak mau terus terang mengidap penyakit tersebut. Diperkirakan, ada 65.000 sampai 120.000 orang Amerika yang didiagnosis terserang penyakit ini setiap tahun.

"Untuk mengobati Peyronie, biasanya diberikan obat lewat mulut atau suntik, namun bukti untuk mendukung kemujarabannya masih lemah. Untuk kasus yang parah, bisa dilakukan pembedahan. Namun bisa mengakibatkan disfungsi ereksi dan pemendekan penis," kata Dr Culley C. Carson III, profesor urologi di University of North Carolina dan peneliti dalam ujicoba obat seperti dilansir New York Daily, Jumat (8/6/2012).

Uji coba dilakukan kepada lebih dari 400 orang pasien di Amerika Serikat dan Australia yang mengalami Peyronie. Dalam satu percobaan, kelengkungan rata-rata pada pria yang diobati dengan Xiaflex berkurang dari 48,8 derajat pada awal penelitian menjadi 31,0 derajat setahun kemudian atau meningkat 37,6 persen.

Peningkatan 20 persen dalam dunia medis dianggap cukup memuaskan. Pada kelompok kontrol, kelengkungan berkurang dari dari 49,0 derajat menjadi 39,0 derajat atau meningkat 21,3 persen.

Xiaflex diperoleh dari enzim bakteri penyebab gangren yang menggerogoti jaringan-jaringan korbannya. Enzim ini akan merusak kolagen, komponen yang menyebabkan penimbunan plak pada penis dan memicu Peyronie.

Xiaflex disetujui pada 2010 untuk mengobati Duyputen contracture, penyakit yang menyebabkan jari-jari bengkok secara permanen ke arah telapak tangan. Penjualannya menurun drastis pada tahun lalu di Amerika Serikat dan diharapkan dapat digenjot tahun ini.(Sumber: detikHealth)

(1143) Dibaca - (0) Komentar

[ Kirim Komentar ]
Nama
Email
Komentar



(*Masukkan 6 kode diatas)

 
 
 
Redaksi | Index Berita | RSS | E-mail | Index Iklan Copyright © 2011-2014 by KabarRiau.net. All Rights Reserved