Sabtu, 01 08 2026 Perhatian : Pengambilan berita kabarriau.net harus mencantumkan kabarriau, boleh krN, atau kami akan menuntut sesuai UU No.12 Thn 1997 tentang Hak Cipta
 
Datuk Wangsa Diraja Negeri Serdang Soroti Pentingnya Pelestarian Warisan Melayu sebagai Pilar Jati Diri Bangsa
Sabtu, 01 Agustus 2026 - 07:44:15 WIB

Kabar Riau - Nasional
Dr. Sakhyan Asmara: Melayu Serdang Warisan Peradaban Bangsa yang Wajib Dijaga dan Diwariskan
SHARE
   
 

MEDAN - SUMUT

Tokoh Melayu Serdang yang juga menyandang gelar adat Datuk Wangsa Diraja Negeri Serdang, Dr. Sakhyan Asmara, M.SP, menegaskan bahwa pelestarian sejarah dan kebudayaan Melayu merupakan bagian penting dalam menjaga jati diri bangsa Indonesia. Menurutnya, warisan peradaban Melayu bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi menjadi fondasi nilai, karakter, dan identitas yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus.

Hal tersebut disampaikan Dr. Sakhyan Asmara di Medan, Jumat (31/7/2026). Ia menjelaskan bahwa perjalanan sejarah Kesultanan Serdang, yang berdiri pada tahun 1723, telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan pemerintahan, perdagangan, pendidikan, penyebaran agama Islam, serta pembentukan adat dan budaya Melayu di kawasan Sumatera Timur.

"Sejarah Melayu Serdang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia. Di dalamnya terkandung nilai-nilai peradaban, ilmu pengetahuan, akhlak, dan kebudayaan yang hingga kini masih relevan sebagai pedoman kehidupan bermasyarakat, "ujarnya.

Menurut Sakhyan, tantangan terbesar saat ini adalah semakin berkurangnya pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan budaya daerah. Karena itu, pelestarian budaya harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, penelitian, seminar, literasi, pelatihan jurnalistik, festival budaya, hingga pemanfaatan teknologi digital sebagai media edukasi.

Ia menegaskan bahwa budaya Melayu Serdang mengandung berbagai nilai luhur yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman, seperti menghormati orang tua, menjunjung tinggi musyawarah, mempererat silaturahmi, mengedepankan semangat gotong royong, serta memegang teguh prinsip adat yang bersendikan syariat.

Nilai-nilai tersebut, kata dia, masih tercermin dalam berbagai tradisi masyarakat Melayu, di antaranya tepung tawar, kenduri adat, prosesi pernikahan Melayu, seni berpantun, tari tradisional, musik Melayu, hingga berbagai upacara adat yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Selain kekayaan tradisi, Dr. Sakhyan juga mengingatkan pentingnya menjaga berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Serdang yang memiliki nilai tinggi sebagai bagian dari khazanah budaya nasional.

Ia menuturkan bahwa Istana Darul Arif, yang dibangun pada tahun 1886 oleh Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah sebagai simbol kemandirian Kesultanan Serdang, telah dibumihanguskan pada masa Revolusi Sosial tahun 1946. Menurut berbagai catatan sejarah, istana tersebut dibakar agar tidak dimanfaatkan kembali oleh Belanda sebagai markas militer untuk memperluas penjajahannya di wilayah Serdang.

Meski demikian, ia bersyukur Masjid Raya Sulaimaniyah yang didirikan Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah pada tahun 1894 di Perbaungan masih berdiri hingga kini sebagai salah satu saksi sejarah kejayaan Kesultanan Serdang.

"Masjid Raya Sulaimaniyah perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah agar tetap terpelihara sebagai cagar budaya sekaligus menjadi pusat edukasi sejarah dan destinasi wisata budaya, "katanya.

Dr. Sakhyan juga menyoroti keberadaan Taman Bacaan Masyarakat Tengku Luckman Sinar di Jalan Abdullah Lubis, Kota Medan, yang menjadi salah satu pusat pelestarian literatur sejarah Melayu. Taman bacaan yang berdiri pada tahun 2011 tersebut menyimpan sekitar 7.000 koleksi berupa buku, manuskrip, dokumen, dan materi audiovisual yang membahas sejarah, adat, budaya, pendidikan, hingga hukum Melayu.

Menurutnya, koleksi tersebut merupakan warisan intelektual yang sangat berharga dan harus dijaga bersama agar tidak hilang ditelan zaman.

"Peran pemerintah, lembaga adat, akademisi, media massa, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian seluruh warisan sejarah Melayu, baik berupa bangunan bersejarah maupun kekayaan literasi yang telah diwariskan para pendahulu, "ujarnya.

Sebagai akademisi, budayawan, dan pemerhati kebudayaan Melayu, Dr. Sakhyan Asmara selama ini aktif mengembangkan berbagai kegiatan pendidikan, penelitian, seminar, diskusi budaya, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian sejarah dan adat Melayu Serdang.

Ia berharap seluruh elemen bangsa dapat bersinergi menjaga warisan budaya tersebut agar nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur tetap hidup, berkembang, dan menjadi inspirasi bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

"Menjaga budaya bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga marwah, identitas, dan peradaban bangsa Indonesia di tengah arus perubahan zaman, "pungkasnya.**krN/Syahdan

(5077) Dibaca

 
Komentar Anda :
 




 
Redaksi | Indeks Berita | RSS | Indeks Iklan Copyright © 2010-2023 by KabarRiau.net. All Rights Reserved